7 Apr 2016

Carrying on an perspective

This morning, I get up and suddenly getting on embarrass and want to crying moreover. I heard of noise who speak up without sacrificed. Yes. And my neighborhood always to do something habits twice at my home. Ever been I lived I'll not give them excusing. How I say that was not avoidance and so on. In this era globalization they only still think about their self aside consider anything. They wasting his life overnight after spent their day doing work. I’m so sadness know about this accident in our society.
Majority society thinking only about bound their self ought to their country, but this condition is better than in India. A culture to be a stigma join a joy only one night. A culture and to be a symptoms like smoking and doing muggings.  How will be this country to be modern country if they only still thinking about their life like that? Relying on the opinion, the cash direct investment to the slum society was not effective. But in this case we have to consider about their children to get benefit from education inside the lack of his father. How will they get comfort and develop their lack if the leader in their family still egoism without thinking tomorrow my wife and children eating something or not. They only thinking in this time and now.
Furthermore, anything else to say in my part life recent years. Since I’m enroll my college unconscious getting the impact of my boarding college and education the way thinking as student. Every week I help Islamic gathering in my dormitory where gave me the strong personal characteristic. How guess if I’m not enter dormitory by accident?  Yes. That’s accident if I say. First time I went the home and I didn’t imagine where and how there specifically. Only two older student give me more attention in three days. After that day, friends come and the student’s dormitory enroll the college.
My activities starting I got difficult time and strict activity. There’re not only stick but also pressure me to do it without complain. That’s my first time crying in third year of my college and doing it as a leader by self and motivated my younger student. You should brave and hold up anything that comes to you every day till your time in the dormitory end up. Your activity start up at after dawn time until night. Terrible part if you enter your exam and crash with organization schedule, so you have to adjust it to more peoples. Sometimes you got anger from someone who you didn’t false overall. But no other choice you have to make problems. You only think about how to pass this time and all of that while crying and once go back to your home.

I’m confident that you will reap it one day soberly as much as the God will give to you. One quote: God will help you if you help him (the way God want to do). That’s simple but the action is not like the quote right. During my college and I lived in my dormitory, new changes and new life comes for me anything. Saying thank you from my deeply heart to God. I can define my dream and closer to God, please help and always guide me into your right way. I learn about how to role in the society, more deeply understood your friends, how to communicate to others, how to responsibility your duty and your statement. Lastly and not much, every life will enter us to be better and convince that beyond God always designate us from the twist way. 

23 Jan 2016

Analize Japanese Comunication Business

1.     Komunikasi Verbal
 a. Meeting Saat pertama kali bertemu dalam rapat biasanya diawali dengan pertukaran kartu nama. Etikanya adalah penerima kartu saling mengadahkan kedua tanggannya. Dibaca secara lantang dan diperdengarkan kepada semua orang, dan kartu tersebut diletakkan di atas meja, bukan di kantong saku atau kantong celana, dikarenakan hal itu dianggap tidak sopan. Mereka menghormati kaum yang lebih tua atau senior untuk memberikan tanggapan dalam meeting. Mereka berbicara dengan nada yang rendah dan teratur, muka datar dan serius.
 b.Interview (He-re-so)
He-Koku: Laporan mengabari atasan untuk semua progress dan masalah. Re-Roku: Kontak, yakni tidak pernah lupa menghubungi atasan dan dapat selalu dihubungi. So-Dan: Diskusi, yakni membicarakan masalah dengan atasan untuk mendengar advice dari atasan.
c.Presentasi Selalu ada Chukaisha(Chu-kie-shah) “ penengah” seseorang yang bertindak sebagai wakil dari satu kepada pihak lain untuk melakukan negosiasi. Khususnya membahas persoalan yang sensitive namun perannya sangat penting.
 d. Phone call: Always call always available if the phone number listed in contact phone and converserly.
2.     Komunikasi non-verbal adalah proses komunikasi yang disampaikan tidak dengan kata-kata. Komunikasi ini dikenal dengan bahasa tubuh atau bahasa isyarat, sedangkan dalam bahasa jepang dikenal dengan “miburi”. Situasi komunikasi ini dapat menuntut orang untuk mengungkapkan gagasan dan emosi ecara tidak langsung. Pesan ini dimaksudkan secara implicit misalnya kontak mata, eskpresi wajah, dan gerak anggota badan(gesture). a.Ojigi Membungkuk adalah cara memberi salam tradisional di jepang. Orang jepang menyebut salam ini “Ojigi”. Di jepang umumnya tidak memberikan salam dengan berjabat tangan berpelukan atau cara lain yang bersentuhan badan. Jarak yang pantas ketika berhadapan bagi orang jepang adalah kurang 1 meter. Adapun tata cara Ojigi yakni : 
    • Badan membungkuk dan tidak boleh melihat mata lawan bicara -Janganlah melepas atau menjuntaikan tangan dari badan -Punggung lurus pada saat membungkuk dan tidak boleh menonjolkan pantat. -Jangan melihat ujung kaki, tetapi lihatlah 30 cm di depan ujung kaaki. -Ketika melakukan salam bias mengucapkan : Ohayo Gozaimasu (selamat pagi), Konichiwa(selamat siang), Konbanwa (Selamat Malam), atau Shitsurei Shimazu (senang bertemu anda). 
    • Memberikan kartu nama Orang jepang memperlakukan kartu nama dengan rasa hormat yang tinggi. Aturan pada waktu bertukar kartu nama adalah jabatan yang lebih rendah memberikan terlebih dahulu kepada orang yang jabatannya lebih tinggi atau jika sedang berkunjung memberikan terlebih dahulu kepada yang dikunjungi.
    • Menunjuk hidung, meletakkan jari telunjuk di depan bibir Jika orang jepang berkomunikasi dengan orang lain dan menunjuk hidungnya maka artinya ia menunjukkan kepada dirinya sendiri. Sedangkan si pembicara menunjuk di depan bibirnya, itu bias diartikan “ tolong diam”.
    • Oke Arti oke dengan membentuk lingkaran dengan ibu jari dan jari telunjuk, lalu memperlihatkan samping kelingking kepada lawan pembicara.
    • Benar dan Salah Tangan menyilang di depan muka.
    • Shokuji (saat makan) Etika sumpit orang jepang mirip dengan orang cina, perbedaan utamanya bahwa mangkuk dipegang lebih rendah dan sebaiknya menggambil lauk di sebelah kiri dengan tangan kanan. 
    • Okama Letakkan telapak tangan di sisi mulut dengan telapak tangan menghadap ke luar. Gesture ini dapat berarti gay jika kamu melakukannya tanpa mengatakan sesuatu. Namun, jika kamu mengatakan sesuatu itu berarti kamu berbisik-bisik tentang seseorang di belakangnya. 
    • Ochi Tsui Chi Gerakan kedua tangan dari atas ke bawah sambil berkata “ ochi tsuite” atau maa maaa maaa” dengan telapak tangan menghadap ke bawah. Hal ini dilakukan agar seseorang tetap tenang dan tidak perlu panic.


Konvergensi International Financial Reporting Standards IFRS di Indonesia


Sejak 27 Agustus 2008, lebih dari 113 negara di seluruh dunia membutuhkan atau mengizinkan pelaporan berdasarkan IFRS. Sekitar 85 negara membutuhkan IFRS sebagai pelaporan perusahaan domestik yang menerapkan informasi standar, sedangkan di Indonesia sendiri baru mengadopsi IFRS penuh tahun 2012. International Financial Reporting Standards (IFRS) menjadi perhatian utama bagi akuntan, akademisi, perusahaan, dan auditor dalam penerapan standar pelaporan keuangan. Mengapa Indonesia harus melakukan konvergensi IFRS?, maka dalam hal ini kepentingan global yang mendasari penerapan standar ini untuk meningkatkan daya informasi dari laporan keuangan perusahaan-perusahaan di Indonesia terutama perusahaan yang sudah terdaftar di bursa efek global seperti BEI (Bursa Efek Indonesia).
Pada priode 1973-1984, Ikatan Akuntansi Indonesia (IAI) telah membentuk komite prinsip-prinsip akuntansi Indonesia (PAI) untuk menetapkan standar akuntansi. Revisi mendasar PAI 1973 telah diterbitkan (1984) dan akhir 1994 mengumumkan tentang pernyataan standar akuntansi tambahan dan menerbitkan interpretasi yang sebagian besar merupakan harmonisasi IAS yang dikeluarkan IASB (Badan Standar laporan Keuangan US). Sejak tahun 1994, Komite Standar Akuntansi Keuangan menggunakan International Accounting Standards (IAS) sebagai dasar untuk membangun standar akuntansi keuangan Indonesia dan tahun 1995 IAI melakukan revisi besar untuk menerapkan standar-standar akuntansi baru. Beberapa standar diadopsi dari US GAAP dan lainnya dibuat sendiri. Periode 2006-2008 merupakan konvergensi IFRS tahap 1, sejak 1995-2010 buku Standar Akuntansi Keuangan (SAK) terus direvisi, baik penyempurnaan maupun penambahan standar baru. Perjalanan IFRS ternyata tidak mudah, bahkan sampai akhir 2008 DSAK (Dewan Standar Akuntansi Keuangan) IAI baru mengadopsi 10 standar IFRS dari total 33 standar.
Konvergensi dapat berarti harmonisasi atau standardisasi dalam proses menyesuaikan standar akuntansi Keuangan (SAK) terhadap IFRS. Terbatasnya sumber daya mengenai pemahaman dan mahalnya biaya sosialisasi kepada masyarakat luas menjadi kendala dalam penerapan IFRS di Indonesia. Strategi konvergensi IFRS, yaitu Big Bang strategy ( adopsi penuh) dan gradual strategy (bertahap). Di Indonesia ada tiga tahapan konvergensi IFRS, yaitu (1)Tahap adopsi (2008-2011), 
(2)Tahap persiapan Akhir (2011), dan Tahap implementasi (2012). Kendala yang dihadapi dalam adopsi harmonisasi PSAK ke IFRS yakni (a) Dewan Standar Akuntansi kekurangan sumber daya manusia, (b) IFRS berganti terlalu cepat sehingga ketika proses adopsi suatu standar IFRS masih dilakukan, pihak IASB sudah dalam proses mengganti IFRS tersebut, (c) kendala bahasa, (d) infrastruktur profesi akuntan yang belum siap, (e) kesiapan perguruan tinggi dan akuntan pendidik untuk berganti kiblat ke IFRS, (f) dukungan pemerintah terhadap issue konvergensi. Konvergensi IFRS di Indonesia perlu didukung oleh semua pihak untuk meningkatkan standar pelaporan keuangan secara universal sehingga informasi keuangan dapat digunakan oleh semua pihak sehingga dapat meningkatkan kepercayaan investor untuk berinvestasi di Indonesia dikarenakan adanya pemahaman yang baik dan adanya relevansi informasi yang disajikan. 

Daftar Pustaka 
Oktavia (2009). Perkembangan Akuntansi di Indonesia. Jurnal Akuntansi, 9: 81-94. http://rotualilis.blogspot.com/2014/06/sejarahperkembangandanpengadopsian.html. 
Diakses pada tanggal 17 Oktober 2014 
Diakses pada tanggal 17 Oktober 2014 
Diakses pada tanggal 17 Oktober 2014 
Diakses pada tanggal 17 Oktober 2014

Politisasi adopsi IFRS terhadap PSAK di Indonesia


IAI sebagai anggota International Federation of Accountant (IFAC) merespon working Group 1 G-20 wajib mengadopsi International Standards on Auditing yang salah satunya menerapkan konsep IFRS sebagai pelaporan keuangan yang transparen dan akuntable dengan menggunakan professional judgement mengenai substansi ekonomi transaksinya (Saiful, p. 192-193). Sejak tahun 2006-2011 IAI telah banyak melakukan konvergensi IFRS hingga akhirnya IAI mengadopsi secara penuh IFRS sejak tanggal 1 januari 2012.
Roadmap konvergensi IFRS telah selesai, namun penerapan standar pelaporan keuangan beberapa perusahaan di Indonesia masih belum secara penuh menerapkan penggunaan standar ini. Butir-butir IFRS menjelaskan mengenai beberapa point mengenai konsep-konsep yang bertentangan dengan GAAP perubahan standar tersebut menyebabkan beberapa kendala dalam sektor bisnis dan pendidikan. Secara mendasar konsep IFRS merupakan solusi dari UK GAAP dan US GAAP yang kurang transparan dan akuntable semenjak terungkapnya kasus Enron dan KAAP Arthur Andersen (Susetyo, 2009, p. 2-4) Terdapat beberapa perbedaan dalam kerangka konseptual antara GAAP dan IFRS yaitu pertama pernyataan GAAP pada tujuan pelaporan keuangan sementara IFRS pada fokus utama pelaporan (Investor dan Kreditor) dan kedua, asumsi dasar dan konsep modal dan konsep pemeliharaan modal (Narsa, ____, p. 50).
Semenjak diadopsinya IFRS di Indonesia pemerintah dan berbagai instansi dan public sector Body berlomba-lomba untuk menerapkan IFRS dalam pelaporan keuangan. Adopsi tersebut sebelumnya harus melewati tahap harmonisasi dan konvergensi yang sangat panjang dan apakah PSAK adopsi ini dapat diimplementasikan di Indonesia.
Berbagai kepentingan mewarnai sejarah adopsi IFRS di Indonesia, namun secara konseptual politisasi tersebut belumlah secara maksimal dapat dilakukan terkait dengan berbagai kendala mengenai proses penerapannya. Sehingga yang dipolitisasi sekarang yakni bagaimana masyarakat mengetahui dan menerapkan konsep IFRS dalam standar pelaporan keuangan perusahaan di Indonesia. Politisasi mengenai butir-butir PSAK melalui adopsi IFRS disimpukan tidak ada, namun adanya beberapa pihak yang merasa diuntungkan dengan adopsi ini, salah satunnya pemerintah yakni meningkatnya pendapatan pajak jika seluruh perusahaan di Indonesia menerapkan metode sistem pencatatan dengan FIFO.
Proses adopsi standar pelaporan keuangan menuju keuangan global dapat membuat perusahaan dapat dimengerti oleh pasar dunia, namun secara tidak sadar IFRS bukan sekedar laporan keuangan yang dapat dimengerti dan menyajikan laporan keuangan, tetapi memungkinkan dapat mengubah pola pikir dan cara semua elemen (behavior effect). Konsep IFRS berkiblat pada IASB sehingga memungkinkan adanya politisasi dalam pola keuangan global yang iklimnya semakin tidak dapat diprediksi dan diramalkan. 

Daftar Pustaka 
Muchlis, Saiful (2011). Jurnal Akuntansi: Harmonisasi Standar Akuntansi Internasional dan Dampak Penerapan dari Adopsi Penuh IFRS terhadap PSAK. Vol.01, No. 02. 
Narsa, I Made. ____. Struktur Meta Teori Akuntansi Keuangan (Sebuah Telaah dan Perbandingan Antara FASB dan IASC). Surabaya: Universitas Airlangga. 
Nurhayanto. 2010. Seminar IFRS: Konvergensi dan Potensi Kendala Implementasinya di Indonesia. Ciawi: Pusdiklatwas BPKP. 
Susetyo, Budi. 2009. Pengaruh Pengalaman Audit Terhadap Pertimbangan Auditor dengan Kredibilitas Klien sebagai Variabel Moderating. Semarang: Universitas Diponegoro. 
David Solomons (1978). Journal of Accountancy: The Politization of Accounting. Vol. 146, No. 05.

Tekanan Budaya Kompetitif Dalam Era Globalisasi


Globalisasi merupakan salah satu era kebangkitan masyarakat di seluruh dunia. Fenomena ini menjadi gejala yang umum hingga menimbulkan beragam perspektif. Masyarakat menilai bahwa era globalisasi saat ini sebenarnya sudah terjadi sejak berabad-abad lalu yang apabila ditelusuri berkaitan dengan perdagangan internasional yang melibatkan negara-negara Cina, India, Gujarat, Persia, dan negara-negara Eropa. Revolusi Industri di Inggris pada abad ke-16 membawa dampak perubahan yang signifikan dalam era modernisasi negara-negara Eropa.
Semakin berkembangnya kebutuhan industri dan perdagangan internasional maka juga akan memunculkan perusahaan multinasional di seluruh dunia (Winarningsih, 2006) Dalam perspektif global masing-masing warga negara berpendapat mengenai menjadi bagian warga dunia dan bersamaan dengan hal tersebut warga negara tersebut memiliki perspektif bahwa negaranya memiliki keunggulan komparatif (chauvinisme) dibandingkan dengan negara-negara lain. Akibatnya globalisasi berpengaruh dalam berbagai aspek seperti budaya, ekonomi, politik, sosial, informasi, dan komunikasi.
 Hal yang perlu diperhatikan yakni ketika batas-batas globalisasi melampaui aspek-aspek tersebut dan keterkaitan antara hubungan suatu negara dengan dunia Internasional semakin erat. Salah satu aspek fundamental suatu bangsa yang perlu diperhatikan yakni perekonomian. Globalisasi perekonomian dapat membawa perekonomian nasional menjadi bagian dari perekonomian internasional secara kompetitif atau masuknya peluang produk global dalam perekonomian domestik. Kondisi ini dapat memunculkan keadaan pasar domestik menjadi lebih stabil atau justru sebaliknya tidak dapat menghadapi persaingan ekonomi global. Indeks daya saing Indonesia menurut World Economic Forum (WEF) 2014-2015 berada di urutan ke-34 sedangkan berdasarkan Human Capital Report Indonesia berada di urutan ke-69. Indonesia terus bersiap dengan MEA (Masyarakat Ekonomi Asean) yang akan diberlakukan akhir tahun 2015.
Perdagangan bebas di kawasan ASEAN ditandai dengan arus bebas berupa barang, jasa, investasi, tenaga kerja, dan modal yang lebih dinamis dan kompetitif. Ekonomi globalisasi dapat mengurangi dan meningkatkan produktivitas suatu negara. Kegiatan ekspor dan impor dapat dilakukan ketika suatu negara mengalami krisis bahan baku atau tenaga kerja. Globalisasi telah mendorong kegiatan investasi dan inovasi dimana situasi tersebut dapat memperluas pangsa pasar produsen (Tisdell dan Seidl, 2002: 130-132). Perdagangan global mencakup persaingan dalam berbagai aspek seperti integrasi regional, produktivitas produk, trends pangsa pasar, dan permintaan industri lokal (O’Loughlin dan Anselin, 1996:158). Persaingan dalam hal ini pada competitiveness tidak dapat diukur atau dinilai berdasarkan kinerja maupun proses daya saing yang telah terjadi (Tambunan, 2012; Muhammad, 1997). Misalnya: Ekspor kopi robusta Indonesia jauh lebih banyak daripada ekspor kopi robusta Ethiopia, namun dalam segi kualitas kopi Ethiopia jauh lebih baik kualitasnya daripada kopi robusta Indonesia. Kopi robusta Ethiopia telah menjadi kopi terbaik di dunia menurut The Sustainable Trade Initiative dari Belanda. Hal ini mengindikasikan bahwa daya saing tidak hanya diukur dalam hal kuantitas saja namun kualitas dalam hal ini juga harus diperhatikan. Selama ini Indonesia memang unggul dalam hal kuantitas namun jika dinilai ari segi kualitas, Indonesia masih harus banyak berbenah diri.

PEMBAHASAN 

Persaingan global merupakan sebuah perjanjian yang tidak dapat dihindari di kemudian hari. Beberapa hal mengindikasikan bahwa globalisasi ekonomi merupakan ekspansi negara-negara maju dalam memperluas ekonomi negaranya namun ada juga sisi positif dan tantangan sebuah negara untuk menghadapi globalisasi ekonomi tersebut. Menurut Global competitive Indeks (GCI) ada 12 faktor yang mempengaruh perdagangan global yaitu:

 Faktor-faktor yang mempengaruhi World trade
a. Pemerintah
b. Infrastuktur
c. Ekonomi makro
d. Kesehatan dan pendidikan dasar
e. Pendidikan tinggi dan kualitas sumbe daya manusia
f. Efisiensi barang dagangan
g. Efisiensi tenaga kerja
h. Sistem moneter
i. Kesiapan teknologi
j. Pangsa pasar
k. Pengembangan bisnis
l. Inovasi Selain produksi dan ekspor,

Persaingan multidimensi terjadi dalam beberapa sektor dan aspek. Dengan adanya era globalisasi, dimana mayoritas masyarakat Indonesia tengah tinggal di daerah pedesaan. Tendensi masyarakat pedesaan masih sulit menerima perubahan dan dinamika perekonomian global. Masyarakat masih mengutamakan sektor pertanian sebagai mata pencaharian utama sehari-hari. Perkembangan masyarakat bercorak agraris menuju masyarakat modern dapat dikatakan sebagai proses modernisasi namun hal ini belum dapat diaplikasikan sepenuhnya. Globalisasi dapat terwujud jika ada keterbukaan dari masyarakat.
Waluya (2007: 05) mengatakan bahwa ada beberapa faktor yang cukup berperan dalam perubahan masyarakat:
 a.Adanya sikap terbuka dari masyarakat terhadap hal-hal baru. Misalnya, masyarakat mengadakan kebiasaan terhadap kebudayaan lain (orang Indonesia mulai banyak yang menjadikan makan pizza sebagai sebuah kebiasaan setiap minggu).
 b.Unsur kebudayaan baru tidak bertentangan dengan ajaran agama yang dianut. Misalnya, percampuran dua kebudayaan Hindu dan Arab yang terjadi di Indonesia pada masa silam.
 c.Corak struktur sosial masyarakat menentukan proses penerimaan unsur kebudayaan baru. Struktur sosial yang tertutup akan sulit menerima kebudayaan baru. Misalnya, orang bali harus menikah dengan orang bali, jika ia menikah dengan selain orang bali, maka ia tidak termasuk bagian dari masyarakat bali lagi.
 d.Unsur kebudayaan baru dapat diterima oleh sutu masyarakt apabila telah ada dasar unsur-unsur kebudayaan sebelumnya. 
e.Unsur baru dapat diterima oleh masyarakat apabila ada manfaatnya. Perkembangan budaya dan pengaruhnya mulai melekat dalam masyarakat melalui berbagai media dan edukasi. Upaya peningkatan kesejahteraan diikuiti munculnya berbagai aktivitas dan komunitas baik secara individual maupun team yang memunginkan adanya perubahan kompetisi atau perlunya budaya kompetitif oleh masyarakat (Estiningtyastuti, 2014: 111).
Menurut Soesastro (2004), sumber daya manusia merupakan salah satu faktor keunggulan komparatif. Namun keunggulan ini belum dapat dimaksimalkan dikarenakan berbagai faktor seperti masih rendahnya pendidikan, pendapatan, dan daya saing masyarakat Indonesia di tengah arus daya saing globalisasi. Masing-masing individu dituntut memiliki spesialis dan daya saing global dalam kehidupannya sehingga stabilitas belum terwujudnya yang dipengaruhi oleh struktur dan nilai-nilai adat yang maih berlaku dalam masyarakat. Ada beberapa perspektif bahwa para produsen dan karyawan harus selalu dipaksakan untuk menghadapi persaingan global. Adanya pasar terbuka membuat industri domestik semakin bersemangat dan meningkatkan daya saing produk mereka secara efisien, efektif, dan ekonomis (value for money).
Pasar tersebut yang kini sedang digalakkan oleh pemerintah berdasarkan kepercayaan positif bahwa persaingan global akan menciptakan dinamika yang lebih baik. Diharapkan upaya menghadapi globalisasi dan trade agreement yang telah disetujui dapat membawa Indonesia menuju proses masyarakat madani, namun semua itu tidak dapat terlepas peran dan perilaku masyarakat dan lembaga pemerintah yang bersangkutan. 

Referensi 
Estiningtyastuti. (2014). Perekonmian Indonesia. STIE Swastamandiri Surakarta. 
Indrajit, R. E. (2002). Evolusi Perkembangan Teknologi Informasi. Renaissance Research Centre. O'Loughlin, J., & Anselin, L. (1996). Geo-economic competition and trade bloc formation: United States, German, and Japanese exports, 1968-1992.Economic Geography, 131-160. 
Sala-i-Martin, X., Blanke, J., Hanouz, M. D., Geiger, T., & Mia, I. (2010). The Global Competitiveness Index 2010–2011: Looking beyond the global economic crisis. The global competitiveness report, 2011, 14-80. 
Soesastro, H. (2004). Kebijakan Persaingan, Daya Saing, Liberalisasi, Globalisasi, Regionalisasi dan Semua Itu. Economics. 
Svizzero, S., & Tisdell, C. (2002). Reconciling globalisation and technological change: growing income inequalities and remedial policies. Intereconomics,37(3), 162-171. 
Syaifuddin, M. (2011). Perspektif Global Penyelesaian Sengketa Investasi di Indonesia. de Jure, 3(1). Tambunan, Tulus T.H. (2012). Perekonomian Indonesia: Kajian Teoritis dan Analisis Empiris. Bogor: Ghalia Indonesia. 
Tisdell, C., & Seidl, I. (2004). Niches and economic competition: implications for economic efficiency, growth and diversity. Structural change and economic dynamics, 15(2), 119-135. 
Waluya, B. (2007). Sosiologi: menyelami fenomena sosial di masyarakat. PT Grafindo Media Pratama. Zairi, M. (1997). Business process management: a boundaryless approach to modern competitiveness. Business Process Management Journal, 3(1), 64-80.

Expense versus Capitalization


Kapitalisasi merupakan kegiatan deffering cost dan memiliki manfaat lebih dari satu periode akuntansi yang diwujudkan dalam bentuk asset. Sedangkan expense merupakan alokasi dari cost. Saat proses kapitalisasi asset penilaian berbaasis historical value karena menganut prinsip going concern dan conservatism. Prinsip going concern berupa asset yang memiliki nilai manfaat di masa yang akan datang dan prinsip conservatism (hati-hati) berupa cadangan akumulasi depresiasi yang mengurangi nilai asset secara tidak langsung. Kondisi yang mensyaratkan adanya kapitalisasi yaitu
a) Terjadi pada masa lampau
b) dapat diidentifikasi hasilnya dan memiliki manfaat di masa mendatang
c) pemilik dapat mengontrol probable future benefitnya
d) Cost transaksi dapat diukur secara reliable
e) cost dapat meningkatkan future benefit Perusahaan yang akan meningkatkan kegiatan produksinya biasanya akan membeli asset berupa mesin produksi.
Pada saat membeli mesin baru maka seorang manajer akan menentukan cost allocation method berupa depresiasi. Mesin akan di masukkan ke dalam akun asset dinamakan kapitalisasi sedangkan depresiasi merupakan alokasi dari cost mesin yang dikategorikan ke dalam expense. Pada saat penentuan cost alokasi dari asset maka ada 2 opsi akan di deffering cost pada setiap periode (kapitalisasi) atau dihabiskan pada satu periode akuntansi (expense).
Effek kapitalisasi pada net Income yakni menunjukkan grapik smooth income dengan biaya yang lebih rendah salah satunya ada deffering cost berupa depresiasi sedangkan dengan metode akuntansi expense maka grafik Income statement nya menunjukkan volatile dikarenakan semua expense depresiasi dihabiskan di tahun pertama dan di tahun kedua tidak ada expense sehingga terjadi penurunan yang signifikan pada net Income. Pada kapitalisasi ROI lebih smooth dan Expense lebih volatile. Rumus ROI = Net Income/HPP, saat net income tinggi dan stabil maka ROI juga akan smooth dan saat Net income rendah dan tidak stabil maka ROI juga akan lebih volatile. Saat Income stable terjadi pada metode akuntansi kapitalisasi sedangkan ROI over-volatile dengan menerapkan metode expense.
Apabila biaya expense tinggi maka akan terjadi overstatement cash outflow dan understatement investing outflow. Sedangkan saat kapitaliasi diberlakukan maka understatement pada operating cash outflow dan overstatement pada investing cash outflow. Solvency ratio pada expense lebih rendah karena jumlah asset lebih rendah daripada saat menggunakan kapitalisasi. Maka seorang manajer akan lebih menerapkan metode akuntansi dengan kapitalisasi daripada dengan expense. I like this part of this materials, so gambling and fascinate to ones. I hope have opportunity to remind this materials later.